Panserbiru.id Panserbiru.id – Tidak ada panggung megah. Tidak ada pesta besar-besaran. Hanya doa, tawa kecil, dan wajah-wajah yang selalu setia mendapingi Laskar Mahesa Jenar berlaga yang menyempatkan diri untuk datang ke Stadion Jatidiri pada Senin malam (18/5/2026) untuk menghadiri acara ulang tahun ke-94 PSIS Semarang.

Acara yang dimulai pukul 19.32 WIB yang diadakan di tribun barat stadion Stadion Jatidiri dihadiri Manajemen klub, pengurus Panser Biru, hingga santri Pondok Pesantren Al Bisri duduk bersama dalam acara doa dan tasyakuran sederhana yang berlangsung hingga sekitar pukul 20.30 WIB.

Setelah menjalani musim yang sulit di LIga 2 musim lalu, bahkan tim kebanggan masyarakat Semarang nyaris terdegrasi ke Liga 3 musim lalu. Acara malam itu terasa seperti pengingat bahwa klub ini masih punya rumah bernama kebersamaan.

Perwakilan manajemen Laskar Mahesa Jenar seperti Wafa Amry dan Reza hadir mengikuti jalannya acara. Pelatih kiper PSIS, I Komang Putra, nampak hadir dan mengikuti acara hingga selesai.

Namun sorotan pada acara malam itu tak lepas dari tribune yang tetap hidup. Hadirnya Panser Biru membuat suasana acara Doa & Tasyakuran di Stadion Jatidiri terasa akrab. Di tengah doa-doa yang dipanjatkan, ada rasa bahwa cinta terhadap PSIS belum benar-benar pudar.

Beberapa petinggi DPP Panser Biru juga tampak hadir langsung. Ketua Umum Panser Biru Kepareng atau Wareng terlihat membaur bersama suporter lain tanpa sekat. Ketua Harian Galih Ndog, Bendahara Ris Hertanto, dan sejumlah pengurus lainnya turut mengikuti rangkaian acara sampai selesai.

Kehadiran santri dan anak-anak dari Pondok Pesantren Al Bisri memberi warna tersendiri dalam perayaan tersebut. Tidak banyak seremoni, tetapi suasana hangat terasa sejak awal acara dimulai.

Lewat akun Instagram resminya, PSIS Semarang juga menyampaikan pesan sederhana tentang ulang tahun kali ini.

“Merayakan ulang tahun ke-94 tahun dengan cara sederhana, manajemen PSIS mengajak berdoa bersama rekan-rekan suporter Panser Biru dan anak-anak Pesantren Al Bisri. Semoga dengan digelarnya doa bersama dan tasyakuran ini menjadi benih untuk hal baik di masa mendatang dan dalam momen ulang tahun ke-94 tahun. Kebanggaan tetaplah kebang94an,” tulis akun resmi klub.

Istilah “kebang94an” kembali menjadi simbol emosional yang dekat dengan hati suporter. Angka 94 bukan sekadar usia klub, tetapi juga perjalanan panjang yang sudah dilewati PSIS bersama ribuan pendukungnya dari masa ke masa.

Tidak ada pesta mewah di ulang tahun kali ini. Tetapi justru dalam kesederhanaan itu, suasana terasa lebih jujur dan dekat dengan suporter.

Di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi klub, malam tasyakuran di Jatidiri seolah menjadi ruang kecil untuk menjaga harapan tetap hidup. Bahwa PSIS boleh jatuh, tetapi rasa memiliki dari tribune belum pernah benar-benar hilang.

Bagi Panser Biru, hadir di stadion pada malam ulang tahun klub bukan sekadar memenuhi undangan acara. Lebih dari itu, itu adalah cara sederhana untuk mengatakan bahwa mereka masih ada, masih berdiri, dan masih percaya Mahesa Jenar bisa bangkit lagi.

Panser Biru
Mei 19, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *